Singapura, 29 Agustus 2026 – Investasi di sektor teknologi finansial atau fintech Singapura mengalami penurunan cukup tajam pada paruh pertama 2026. Berdasarkan laporan KPMG Pulse of Fintech H1 2026, sektor tersebut hanya menarik investasi lebih dari US$499 juta melalui 53 kesepakatan.
Angka tersebut turun jauh dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat sekitar US$1,45 miliar dari 97 kesepakatan. KPMG menyebut capaian tersebut menjadi salah satu periode semester pertama paling lesu yang dialami sektor fintech Singapura dalam hampir satu dekade.
Jumlah Kesepakatan Ikut Menurun
Penurunan investasi tidak hanya terlihat dari nilai pendanaan, tetapi juga dari jumlah transaksi. Pada H1 2025 terdapat 97 kesepakatan, sedangkan jumlahnya menyusut menjadi 53 kesepakatan pada H1 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan investor semakin berhati-hati dalam menempatkan modal. Mereka cenderung memilih perusahaan fintech yang sudah memiliki skala bisnis, model usaha yang terbukti, serta peluang pertumbuhan yang dinilai lebih jelas.
Tren tersebut juga terlihat secara global, ketika nilai investasi fintech meningkat tetapi jumlah transaksi justru menurun karena modal terkonsentrasi pada perusahaan dengan prospek yang dianggap lebih kuat.
Kuartal II Mulai Pulih
Meski secara keseluruhan turun, aktivitas pendanaan fintech Singapura menunjukkan perbaikan pada kuartal kedua. Investasi pada Q1 2026 hanya sekitar US$88 juta melalui 26 kesepakatan, kemudian meningkat menjadi sekitar US$411 juta melalui 27 kesepakatan pada Q2.
Namun, lonjakan tersebut sangat dipengaruhi satu transaksi besar. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembayaran lintas negara memperoleh pendanaan sekitar US$320 juta pada Juni 2026.
Transaksi tersebut menyumbang hampir dua pertiga dari total investasi fintech Singapura selama enam bulan pertama tahun ini.
Pembayaran Lintas Negara Tetap Menarik
Pembayaran lintas negara menjadi salah satu bidang fintech yang tetap mendapatkan perhatian investor. Sepanjang H1 2026, terdapat tiga kesepakatan di sektor tersebut dengan nilai gabungan sekitar US$332 juta.
Besarnya nilai tersebut terutama berasal dari pendanaan US$320 juta pada Juni. Hal ini menunjukkan investor masih melihat peluang besar pada perusahaan yang memiliki kemampuan memfasilitasi transaksi internasional.
Kebutuhan terhadap layanan pembayaran lintas negara dinilai tetap kuat seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan bisnis digital antarnegara.
AI Jadi Segmen Paling Aktif
Kecerdasan buatan atau AI dan pembelajaran mesin juga menjadi salah satu bidang fintech yang paling aktif di Singapura. Segmen tersebut tercatat terlibat dalam 18 dari total 53 kesepakatan selama H1 2026.
Nilai investasi yang berhasil diungkapkan untuk sektor AI dan machine learning mencapai sekitar US$365,9 juta. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa meskipun investor lebih selektif, teknologi yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan menciptakan skala bisnis tetap menarik perhatian.
Aset digital dan mata uang kripto juga masih menjadi segmen dengan jumlah kesepakatan terbesar, meskipun nilai masing-masing transaksi relatif kecil.
Investor Lebih Selektif
KPMG menilai perubahan perilaku investor menjadi salah satu faktor utama di balik penurunan investasi. Modal kini lebih banyak diarahkan kepada sejumlah kecil perusahaan berskala besar yang memiliki rekam jejak dan model bisnis yang telah terbukti.
Strategi tersebut berbeda dengan periode sebelumnya ketika perusahaan fintech pada berbagai tahap perkembangan lebih mudah mendapatkan pendanaan.
Investor tampaknya lebih mempertimbangkan kemampuan perusahaan menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan, efisiensi operasional, serta potensi keuntungan sebelum menanamkan modal dalam jumlah besar.
Posisi Singapura Tetap Kuat
Di tengah penurunan investasi, Singapura masih memiliki sejumlah keunggulan sebagai pusat fintech regional. Lingkungan regulasi yang dinilai terpercaya, konektivitas internasional, serta kekuatan dalam pembayaran dan aset digital tetap menjadi daya tarik.
Kondisi ekonomi Singapura secara umum juga masih menunjukkan kinerja kuat. Produk domestik bruto negara tersebut tumbuh 6,1 persen pada semester pertama 2026, sementara pemerintah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahunan menjadi 4,5-5,5 persen.
Menunggu Momentum Berikutnya
Penurunan investasi fintech pada paruh pertama 2026 belum tentu menunjukkan hilangnya minat investor terhadap industri tersebut. Data menunjukkan bahwa modal masih mengalir dalam jumlah besar ketika terdapat perusahaan dengan skala dan prospek yang dianggap meyakinkan.
Tantangan bagi perusahaan fintech yang lebih kecil adalah mendapatkan pendanaan di tengah persaingan yang semakin ketat. Mereka perlu menunjukkan model bisnis yang kuat, kemampuan bertumbuh, serta keunggulan teknologi agar dapat menarik perhatian investor.
Investasi fintech Singapura pada H1 2026 turun menjadi lebih dari US$499 juta melalui 53 kesepakatan, dari sekitar US$1,45 miliar melalui 97 kesepakatan pada periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, sektor pembayaran lintas negara, AI, serta aset digital masih menjadi bidang yang menarik perhatian investor, sementara modal semakin terkonsentrasi pada perusahaan dengan model bisnis yang telah terbukti.





