Jakarta, 3 September 2026 – Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama mendorong pemerintah desa bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mengembangkan budidaya melon dan anggur sebagai salah satu potensi ekonomi baru bagi masyarakat. Pengembangan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tersebut dinilai dapat menjadi alternatif dalam memperkuat sumber pendapatan desa sekaligus membuka peluang usaha bagi warga. Melon dan anggur memiliki potensi pasar yang cukup luas apabila dibudidayakan dengan kualitas, kontinuitas produksi, dan pemasaran yang terencana. BUMDes diharapkan tidak hanya menjadi lembaga administratif, tetapi mampu menjalankan unit usaha produktif yang memanfaatkan potensi lokal. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan juga mendorong setiap desa berani melakukan inovasi dengan melihat karakteristik lahan serta peluang pasar di wilayah masing-masing. Melalui pendekatan tersebut, kegiatan pertanian diharapkan dapat memberikan nilai tambah lebih besar bagi masyarakat.
Dorongan pengembangan melon dan anggur menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi desa melalui sektor pertanian. Lampung Selatan memiliki wilayah pertanian yang luas dengan beragam komoditas yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat. Namun, pengembangan pertanian tidak harus hanya bertumpu pada komoditas yang telah lama dibudidayakan. Hortikultura bernilai jual relatif tinggi dapat menjadi pilihan untuk memperluas sumber pendapatan petani dan desa. BUMDes dapat mengambil peran dalam menghubungkan proses produksi dengan kebutuhan pasar sehingga petani tidak berjalan sendiri ketika mengembangkan komoditas baru. Pola tersebut juga memungkinkan keuntungan usaha kembali digunakan untuk mendukung pembangunan dan pelayanan masyarakat desa.
Budidaya melon menjadi salah satu pilihan karena memiliki siklus produksi yang relatif cepat dibandingkan sejumlah tanaman buah tahunan. Dengan pengelolaan yang baik, petani dapat mengatur jadwal tanam agar panen berlangsung sesuai kebutuhan pasar. Kualitas buah menjadi faktor penting karena ukuran, tingkat kemanisan, penampilan, dan kesegaran sangat menentukan harga jual. Penggunaan teknologi seperti rumah tanam atau greenhouse juga dapat membantu mengendalikan kondisi lingkungan dan mengurangi sejumlah risiko budidaya. Sistem irigasi tetes dan pemupukan yang terukur dapat diterapkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air maupun nutrisi. Meski membutuhkan investasi awal, model pertanian modern berpotensi menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih konsisten.
Sementara itu, anggur menawarkan peluang berbeda karena dapat dikembangkan sebagai komoditas buah sekaligus bagian dari konsep agrowisata. Tanaman tersebut membutuhkan pengetahuan mengenai pemilihan varietas, pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama, serta pengaturan fase produksi. Tidak semua varietas memiliki karakter yang sama sehingga petani perlu menyesuaikannya dengan kondisi lingkungan dan tujuan pasar. Apabila dikembangkan secara serius, kebun anggur dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat yang ingin melihat proses budidaya sekaligus membeli buah langsung dari lokasi produksi. Konsep petik buah juga dapat meningkatkan nilai ekonomi karena pendapatan tidak hanya berasal dari penjualan hasil panen. Desa kemudian memiliki peluang membangun kegiatan ekonomi yang menggabungkan pertanian, perdagangan, dan pariwisata.
BUMDes dapat memegang peran penting dalam memastikan usaha tersebut memiliki skala ekonomi yang memadai. Lembaga tersebut dapat mengelola investasi awal, membantu penyediaan sarana produksi, membangun fasilitas pascapanen, hingga mengembangkan pemasaran. Petani yang terlibat dapat diarahkan menggunakan standar budidaya yang relatif seragam sehingga kualitas produk lebih mudah dipertahankan. BUMDes juga dapat melakukan negosiasi dengan pembeli dalam jumlah besar dibandingkan apabila setiap petani menjual hasilnya secara individual. Keuntungan yang diperoleh dari unit usaha kemudian dapat menjadi salah satu sumber pendapatan asli desa. Namun, seluruh kegiatan tetap membutuhkan tata kelola transparan dan perhitungan bisnis yang matang agar usaha dapat bertahan dalam jangka panjang.
Radityo Egi Pratama mendorong desa tidak sekadar mengikuti tren ketika menentukan jenis usaha BUMDes. Kajian terhadap potensi lahan, ketersediaan air, kemampuan sumber daya manusia, kebutuhan modal, dan akses pasar harus dilakukan sebelum budidaya diperluas. Harga produk hortikultura dapat mengalami perubahan sehingga perencanaan pemasaran menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan buah. Produksi dalam jumlah besar tanpa kepastian pembeli dapat menyebabkan harga turun ketika panen berlangsung bersamaan. Karena itu, BUMDes perlu membangun jaringan pemasaran sejak tahap awal pengembangan. Pasar tradisional, ritel modern, hotel, restoran, penjualan langsung, hingga perdagangan melalui platform digital dapat menjadi beberapa saluran yang dipertimbangkan.
Pengembangan komoditas tersebut juga membutuhkan peningkatan kemampuan petani. Budidaya melon dan anggur dengan orientasi komersial membutuhkan penanganan lebih terukur dibandingkan sekadar menanam dalam skala rumah tangga. Pelatihan dapat mencakup teknik pembibitan, pengelolaan nutrisi, pengendalian organisme pengganggu tanaman, pemanenan, hingga penanganan pascapanen. Pendampingan pada periode awal penting agar kesalahan teknis tidak menyebabkan kerugian yang kemudian membuat masyarakat enggan melanjutkan usaha. Kerja sama dengan penyuluh pertanian, perguruan tinggi, komunitas petani, maupun pelaku usaha berpengalaman dapat membantu proses transfer pengetahuan. Keberhasilan proyek percontohan selanjutnya dapat menjadi dasar sebelum usaha diperluas.
Potensi penciptaan lapangan kerja menjadi keuntungan lain apabila budidaya dikembangkan dalam skala lebih besar. Kegiatan pertanian membutuhkan tenaga sejak persiapan lahan, penanaman, perawatan, panen, penyortiran, pengemasan, hingga distribusi. Apabila dikombinasikan dengan agrowisata, kebutuhan tenaga kerja dapat bertambah pada pelayanan pengunjung, pemasaran, kuliner, dan pengelolaan kawasan. Kesempatan tersebut dapat memberikan alternatif pekerjaan bagi generasi muda desa yang selama ini cenderung mencari penghasilan ke wilayah perkotaan. Pertanian yang menggunakan teknologi juga berpotensi menarik kelompok muda karena menawarkan pendekatan berbeda dari gambaran pertanian konvensional. Regenerasi petani menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan sektor tersebut pada masa mendatang.
BUMDes juga dapat mengembangkan produk turunan apabila produksi buah telah stabil. Melon maupun anggur dapat diolah menjadi berbagai produk pangan dan minuman nonalkohol untuk meningkatkan nilai tambah serta memperpanjang masa pemasaran. Produk olahan memberikan pilihan ketika sebagian buah tidak memenuhi standar penjualan sebagai buah segar tetapi masih memiliki kualitas konsumsi yang baik. Usaha pengemasan dan pengolahan juga dapat melibatkan kelompok perempuan, pelaku UMKM, maupun kelompok pemuda di desa. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya diterima petani yang melakukan budidaya. Ekosistem usaha dapat berkembang menjadi rantai ekonomi lokal yang melibatkan lebih banyak masyarakat.
Dorongan Bupati Lampung Selatan terhadap budidaya melon dan anggur berbasis BUMDes pada akhirnya diarahkan untuk membuat desa semakin produktif dan memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan. Keberhasilan program akan bergantung pada kemampuan menentukan komoditas sesuai kondisi lokal, menguasai teknik budidaya, menjaga kualitas, dan memastikan pasar tersedia. BUMDes diharapkan menjadi penggerak yang mempertemukan petani, teknologi, modal, dan jaringan pemasaran dalam satu model usaha yang sehat. Jika dikembangkan secara konsisten, kebun melon dan anggur tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga dapat menciptakan lapangan kerja serta membuka peluang agrowisata dan industri pengolahan. Pemerintah daerah pun diharapkan memberikan pendampingan agar inovasi desa tidak berhenti pada tahap percontohan. Model tersebut berpotensi menjadi salah satu cara Lampung Selatan memperkuat ekonomi dari tingkat desa dengan memanfaatkan sektor pertanian bernilai tambah.





