Jakarta, 9 Mei 2026 – Produk bahan bakar Pertalite kembali menjadi sasaran berbagai informasi palsu dan hoaks yang beredar di media sosial. Sejumlah isu yang tidak benar mulai dari perubahan kualitas bahan bakar hingga kabar penghentian distribusi membuat masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam menerima informasi.
Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai unggahan viral terkait Pertalite ramai beredar di platform digital. Sebagian informasi bahkan memicu kepanikan dan kebingungan masyarakat karena menyangkut penggunaan bahan bakar sehari-hari.
Salah satu hoaks yang sering muncul adalah klaim bahwa Pertalite disebut akan dihapus total dalam waktu dekat tanpa penjelasan resmi. Padahal hingga saat ini distribusi dan penggunaan Pertalite masih berjalan sesuai kebijakan yang berlaku.
Selain itu, muncul juga informasi menyesatkan terkait kualitas bahan bakar yang dikaitkan dengan kerusakan kendaraan secara massal. Pihak terkait menegaskan bahwa spesifikasi dan standar distribusi bahan bakar tetap diawasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Ada pula hoaks mengenai pembatasan pembelian Pertalite yang disebut akan langsung berlaku nasional tanpa sosialisasi. Informasi seperti ini sering kali tersebar tanpa sumber resmi dan memicu antrean panjang di sejumlah SPBU karena masyarakat panik.
Pengamat komunikasi digital menilai isu bahan bakar sangat mudah memancing perhatian publik karena berkaitan langsung dengan kebutuhan sehari-hari dan kondisi ekonomi masyarakat. Karena itu, informasi palsu mengenai BBM sering cepat menyebar di media sosial.
Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa kebenaran informasi melalui sumber resmi pemerintah atau perusahaan energi terkait sebelum mempercayai ataupun membagikannya. Langkah sederhana seperti mengecek situs resmi dan akun terverifikasi dinilai penting untuk mencegah penyebaran hoaks.
Selain merugikan masyarakat, penyebaran informasi palsu juga dapat memicu keresahan publik dan mengganggu distribusi bahan bakar di lapangan. Situasi panic buying akibat kabar yang tidak benar berpotensi menciptakan masalah baru di masyarakat.
Pemerintah dan pihak terkait disebut terus melakukan edukasi digital agar masyarakat semakin kritis dalam menyikapi informasi viral, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan publik seperti energi dan bahan bakar.
Dengan semakin maraknya hoaks di era media sosial, masyarakat diharapkan lebih bijak dan tidak mudah terpancing isu yang belum jelas kebenarannya, termasuk terkait Pertalite dan kebijakan energi nasional.








