Jakarta, 11 September 2026 – Para jurnalis Palestina di Jalur Gaza terus menjalankan tugas jurnalistik di tengah kondisi perang yang telah mengubah kehidupan mereka secara drastis sejak Oktober 2023. Mereka tidak hanya menjadi saksi kehancuran, tetapi pada saat yang sama juga menjadi bagian dari masyarakat yang mengalami kehilangan keluarga, rumah, rekan kerja, dan tempat tinggal. Ketika banyak jurnalis asing menghadapi keterbatasan untuk bekerja secara independen di Gaza, wartawan lokal memainkan peranan penting dalam mendokumentasikan perkembangan di lapangan. Kamera, telepon genggam, dan perlengkapan sederhana digunakan untuk merekam serangan, kondisi rumah sakit, pengungsian, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari. Sebagian tetap bekerja setelah kehilangan orang-orang terdekat dalam konflik. Situasi tersebut membuat pekerjaan jurnalistik di Gaza tidak lagi dapat dipisahkan dari pengalaman pribadi menghadapi perang.
Kehidupan seorang jurnalis di Gaza dapat berubah dalam hitungan menit. Mereka dapat meliput sebuah serangan sebelum kemudian mengetahui bahwa keluarga atau rekan kerjanya menjadi korban di lokasi lain. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat beristirahat juga dapat rusak sehingga pekerjaan harus dilanjutkan dari tempat pengungsian. Dalam situasi seperti itu, batas antara profesi dan kehidupan pribadi menjadi semakin tipis. Jurnalis harus memproses kehilangan sambil tetap mengumpulkan informasi mengenai korban dan kondisi masyarakat di sekitarnya. Sebagian harus berpindah berkali-kali bersama keluarga sambil membawa kamera dan perlengkapan kerja yang masih dapat diselamatkan. Mereka bekerja dengan kesadaran bahwa lokasi liputan maupun tempat tinggal sementara sama-sama dapat menghadapi risiko keamanan.
Salah satu tekanan terbesar adalah kehilangan sesama pekerja media. Dalam lebih dari dua tahun konflik, jumlah jurnalis dan pekerja media yang meninggal di Gaza telah mencapai tingkat yang luar biasa tinggi dibandingkan konflik-konflik lain dalam sejarah modern. Organisasi jurnalis internasional terus mendokumentasikan kematian pekerja media serta menyerukan perlindungan terhadap mereka. Reporters Without Borders juga mencatat nama dan keadaan sejumlah jurnalis yang tewas ketika menjalankan pekerjaan jurnalistik. Perbedaan metodologi membuat angka korban yang dicatat berbagai organisasi tidak selalu sama, terutama mengenai apakah seseorang meninggal ketika sedang bertugas atau sebagai bagian dari korban perang secara umum. Namun, berbagai pemantauan menunjukkan pekerja media Palestina menghadapi risiko yang sangat besar. Setiap kehilangan juga meninggalkan beban tambahan bagi rekan yang masih harus melanjutkan peliputan.
Kesulitan bekerja tidak hanya datang dari ancaman serangan. Kerusakan infrastruktur membuat jurnalis menghadapi persoalan listrik, koneksi internet, pengisian baterai, makanan, air bersih, hingga tempat untuk mengirimkan hasil liputan. Gaza telah terputus dari jaringan listrik sejak awal perang sehingga masyarakat sangat bergantung pada generator, panel surya, dan sumber energi alternatif. Pada September 2026, keterbatasan bahan bakar dan oli bahkan masih membuat generator di rumah sakit serta fasilitas lainnya berada dalam tekanan berat. Bagi jurnalis, listrik menentukan apakah kamera dan telepon dapat digunakan serta apakah rekaman dapat dikirimkan kepada redaksi. Gangguan komunikasi juga dapat membuat wartawan kehilangan kontak dengan kantor maupun keluarganya ketika sedang berada di lapangan. Kondisi dasar yang biasanya tidak menjadi persoalan besar dalam pekerjaan jurnalistik berubah menjadi tantangan harian di Gaza.
Di balik seluruh keterbatasan tersebut terdapat beban psikologis yang tidak mudah diukur. Jurnalis berkali-kali menyaksikan korban meninggal, anak-anak terluka, bangunan runtuh, dan keluarga kehilangan tempat tinggal. Mereka kemudian harus mengubah pengalaman tersebut menjadi laporan yang dapat dipahami masyarakat dunia. Tidak jarang orang yang berada di balik kamera mempunyai keluarga sendiri yang sedang menghadapi persoalan serupa. Kesedihan terhadap rekan yang meninggal juga tidak selalu mempunyai cukup waktu untuk diproses karena berita berikutnya harus segera diliput. Pada Februari 2026, jurnalis Gaza Ibtisam Mahdi menulis tentang kehilangan tiga rekannya dan menggambarkan bagaimana kematian mereka menghancurkan perasaan bahwa masa setelah gencatan senjata berarti keselamatan telah kembali. Pengalaman semacam itu menunjukkan duka dan pekerjaan dapat berlangsung secara bersamaan bagi pekerja media di wilayah konflik.
Jurnalis Palestina juga memiliki posisi yang semakin penting karena akses media internasional ke Gaza selama konflik sangat terbatas. Banyak informasi visual yang kemudian beredar secara global berasal dari pekerja media lokal yang sudah berada di wilayah tersebut. Mereka merekam kondisi rumah sakit, kamp pengungsian, kehancuran lingkungan permukiman, serta kehidupan keluarga yang mencoba bertahan. Dokumentasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pemberitaan harian, tetapi juga menjadi catatan mengenai perubahan yang terjadi di Gaza. Ketika sebuah bangunan atau kawasan kemudian hancur, rekaman sebelumnya dapat menjadi salah satu dokumentasi yang masih tersisa. Situasi itu memberikan tanggung jawab besar kepada jurnalis lokal untuk melakukan verifikasi dan mempertahankan standar jurnalistik meskipun bekerja dalam keadaan sangat tidak normal.
Risiko juga tetap ada meskipun gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat mulai berlaku pada Oktober 2025. Kekerasan tidak sepenuhnya berhenti dan korban terus dilaporkan setelah kesepakatan tersebut. Pada 10 September 2026, misalnya, serangan di Gaza utara kembali menewaskan sebuah keluarga, sementara Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan sebuah struktur militer dan seorang yang disebut terlibat dalam aktivitas tempur. Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa jurnalis masih harus bekerja di lingkungan dengan ancaman serangan meskipun intensitas konflik telah berubah dibandingkan periode sebelumnya. Setiap perjalanan menuju lokasi kejadian tetap membutuhkan pertimbangan keamanan. Wartawan harus menentukan kapan harus mendekat, kapan harus mencari perlindungan, serta bagaimana mengirimkan informasi tanpa membahayakan diri dan orang lain.
Peralatan kerja mereka pun sering jauh dari kondisi ideal. Kamera profesional dapat rusak atau hilang ketika rumah dan kantor media terkena serangan, sementara mendapatkan perangkat pengganti bukan perkara sederhana. Telepon genggam akhirnya menjadi salah satu alat paling penting untuk mengambil gambar, merekam wawancara, menulis laporan, berkomunikasi dengan redaksi, dan mengunggah informasi. Ketika koneksi internet tersedia hanya pada lokasi tertentu, jurnalis harus berpindah untuk mengirimkan materi. Baterai yang tersisa dapat menentukan apakah sebuah peristiwa berhasil didokumentasikan atau tidak. Semua persoalan tersebut berlangsung ketika kebutuhan dasar mereka sebagai warga sipil juga belum tentu terpenuhi. Dalam keadaan demikian, mempertahankan kontinuitas pemberitaan membutuhkan kemampuan beradaptasi yang sangat besar.
Bekerja di tengah duka juga membuat banyak jurnalis Gaza menghadapi pilihan pribadi yang berat. Mereka dapat memilih tinggal bersama keluarga ketika situasi memburuk atau pergi ke lapangan karena merasa masyarakat membutuhkan dokumentasi mengenai apa yang sedang terjadi. Keputusan tersebut tidak pernah sederhana karena setiap keberangkatan membawa risiko tidak dapat kembali. Sebaliknya, berhenti meliput berarti sejumlah kejadian mungkin tidak memiliki saksi jurnalistik yang dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat luas. Kantor HAM PBB pada Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026 kembali menyoroti besarnya risiko yang dihadapi jurnalis di berbagai wilayah konflik dan menyerukan agar pekerja media tidak menjadi sasaran. Perlindungan terhadap jurnalis menjadi penting karena keberadaan mereka memungkinkan publik mendapatkan informasi independen mengenai dampak peperangan terhadap masyarakat sipil.
Kisah para jurnalis Gaza pada akhirnya bukan hanya mengenai keberanian berada dekat lokasi serangan, melainkan tentang upaya mempertahankan pekerjaan jurnalistik ketika kehidupan pribadi mereka sendiri runtuh akibat konflik. Mereka dapat menjadi wartawan pada satu waktu, kemudian menjadi pengungsi, anggota keluarga yang berduka, atau warga yang mencari makanan dan air beberapa jam kemudian. Sebagian kehilangan rumah dan rekan kerja, sementara lainnya tetap membawa kamera meskipun tidak mengetahui apakah tempat tinggal mereka masih ada ketika kembali. Kondisi tersebut memperlihatkan betapa beratnya mempertahankan fungsi pers dalam sebuah wilayah yang mengalami kehancuran luas. Selama situasi Gaza belum sepenuhnya aman, pekerjaan mereka akan terus berlangsung berdampingan dengan risiko dan kehilangan. Dokumentasi yang mereka hasilkan menjadi salah satu cara agar pengalaman masyarakat di tengah perang tidak hilang tanpa catatan.





